Minggu, 08 Mei 2011

PENCARIAN JATI DIRI DI JALAN ALLAH SWT

         Do'a tulus dan ikhlas membumbung tinggi jauh ke angkasa menghalau semua arang dan rintangan. Sungguh Allah Maha Tahu akan kesulitan Hamba Nya. Teringat sebuah ayat Al Quran. Ud'uni Astajib Lakum (berdo'alah niscaya Aku kabulkan). Setidaknya kemarin saya kembali mengalami sebuah kasih sayang Nya. Saya semakin yakin bahwa Allah akan selalu berada bersama kita saat sulit dan senang. Terima kasih Ya Allah, hamba bersyukur atas Nikmat dan Karunia Mu selama ini. 
         "Ya Allah, ya Tuhan kami. Engkau maha mengetahui, ya Allah terhadap kelemahan-kelemahan kami, terhadap kekurangan-kekurangan kami. Engkaulah tempat kami menyembah. Engkaulah tempat kami memohon. Ya Allah, ya Tuhan kami, kami mohon Engkau ampuni, ya Rabbi, bahwa pada waktu Engkau memberi karuniaMu, kami mungkin kurang dapat mensyukuri nikmat, namun pada waktu Engkau memberi cobaan, kami masih pula meragukan kasih sayangMu. Ya Allah, ya Tuhan kami, curahilah kami dengan rahmat dan nikmatMu, sinarilah hati kami dengan cahayaMu. Berikanlah kami bimbingan untuk dapat berjalan dijalanMu. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan yang Engkau ridhai. Berilah kami kemampuan untuk mengikuti jalan yang lurus itu ya Allah. Ya Allah, jadikanlah kami orang-oran yang Engkau karuniai dengan keimanan dan ketaqwaan yang kokoh kepadaMu, sehingga kami mampu melawan segala tantangan dan hambatan." 
Mengapa jati diri itu penting?
          Pertanyaan di atas sangatlah urgent untuk mendapatkan sebuah jawaban. Dengan pemahaman saya yang dangkal ijinkanlah saya berbagi pendapat mengenai arti dari jati diri. Jati diri adalah ekspresi batin mengenai tempat dan peran kita di dunia ini, untuk menemukan arti kehidupan yang hsebenarnya, sebagai tuntunan hidup dalam menemukan kebahagiaan sejati di hidup kita. Sebuah definisi yang cukup panjang dan rumit bukan....
       Seringkali kita merasa hidup kita selalu dijalani dengan aturan yang dibuat oleh orang lain, entah itu orang tua kita, guru kita, norma masyarakat dan agama. Hasilnya, yang tumbuh malah pembangkangan terhadap semua aturan tersebut, dengan alasan mencari jati diri. Kita beranggapan bahwa jati diri kita mengatakan TIDAK pada semua aturan itu. Padahal hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi, yang perlu kita lakukan adalah mencari nilai kebenaran dari aturan yang ada, sembari menimbang kembali proporsi antara hak dan kewajiban kita dalam sistem kehidupan yang kita jalani sekarang. Susah? ya jelas susah, lha kita harus bisa meredam ego kita untuk melakukannya :D 
      Pendapat bahwa jati diri seringkali dibentuk oleh lingkungan bisa jadi bumerang bagi yang mengutarakannya. Karena lingkungan kita juga belum tentu menemukan jati diri mereka, jadi bagaimana mereka bisa membentuk jati diri seseorang?
Yang benar, lingkungan menawarkan sebentuk pola pikir yang sering hadir di kehidupan seseorang, nah, soal jati diri seseorang itu menolaknya atau mengikuti pola pikir lingkungan, itulah yang mengubah pola pikir seseorang. Jadi lebih tepat untuk dikatakan bahwa lingkungan memberikan sebuah pertanyaan untuk dijawab oleh jati diri seseorang. Bila seseorang gagal menjawabnya dengan cara yang terbaik, maka orang tersebut akan mengalami krisis jati diri dan hanya mengejar pengakuan atas nilai-nilai dari orang lain yang (belum tentu telah menemukan jati dirinya) seumur hidupnya.
ni adalah penyebab krisis jati diri paling krusial untuk diberantas. Tidak jarang kita hanya menerima kehidupan dalam 3 golongan, yaitu hidup enak, tidak enak dan biasa-biasa saja. Sekalipun penggolongan tersebut tidaklah sepenuhnya salah, akan tetapi parameter yang digunakannya sering kali menyesatkan, yaitu ‘harta’:)
 
Jadi, cara paling cepat untuk menemukan jati diri adalah dengan mencari kebenaran yang tanpa cacat, bukan hanya terlihat baik saat ini, tapi juga nanti, sampai kita keliang lahat sekalipun. Dan kunci untuk menuntun kita pada jati diri adalah dengan membiarkan nurani kita hidup, dan jangan pernah berhenti mempertanyakan kebermanfaatan hidup kita:D



Tidak ada komentar:

Posting Komentar